Pemuda Milenial adalah Penyelamat Budaya Bangsa

Ghofar Warganegoro, seorang mahasiswa fakultas seni budaya dan desain  Indonesia yang mendapat beasiswa di Universitas terkenal Rusia. Seperti namanya “Ghofar” salah satu sifat Allah dalam asmaul husna yang artinya “pemaaf” dan Warganegoro dalam kesastraan Jawa berarti  “warganegara”. Dalam perjalanannya selama kuliah dinegeri yang terkenal dengan seks bebas, perjudian, dan semua hal yang jauh dari latar belakang Ghofar sebagai muslim.
Sulit, tidak mudah dia menjalani hari-harinya yang penuh rintangan menguji keimanannya. Puncak ujian kesabarannya adalah saat pengerjaan proyek akhir kuliahnya dalam membuat desain baju terbaik. Tak jarang mahasiswa lain mencela dirinya yang dianggap kuno,terlalu religius, dan tidak pernah mau sekalipun Ghofar ikut melakukan kegiatan yang menentang ajaran islam. Bahkan mahasiswa Indonesia sekalipun pernah mencelanya.
“Heyy Warganegoro Indonesia” ucap Siska dengan logat Jawa yang dibuat-buat “Untuk apa kau membuat desain kuno seperti ini? Untuk apa kau gunakan corak kampung mu itu? Kita hidup didunia Barat sudah lah ayo kita ikuti arus modern dan milenial ini!” Tambah mahasiswa Indonesia itu. Begitulah singkat celaan yang Ghofar dapat hari ini, dan dia menjawab “Aku hanya singgah disini! Aku akan kembali ke negara ku, dan akan ku buktikan bahwa corak kuno dari negri mu sendiri ini akan melangit di dunia”. Datang John, salah satu mahasiswa Eropa yang tak sengaja mendengar percakapan mahasiswa se-tanah air itu. “Tak usah menyombongkan negaramu yang hanya memiliki canting dan lelehan lilin yang tak bernilai ini” Timpa John sambil berteriak karena Ghofar tengah berlalu meninggalkan mereka berdua.
Ghofar yang tak pernah menghiraukan celaan demi celaan yang ia dapatkan, namun rasa sesak, kesal, marah amat sangat bergejolak dalam hati dan pikirannya yang bisa kapan saja meledak, terutama saat bangsanya, tanah airnya direndahkan seperti tadi siang. Rasa tak terima itu pasti, namun seperti arti namanya “pemaaf” Ghofar hanya bisa membalas ucapan rendah itu dengan bukti nyata, bukti dimana dia dapat menunjukan betapa luas nan elok nya Indonesia.
Hari semakin larut, Ghofar berusaha menyelesaikan tugas desainnya dengan penuh rasa bangga. Setelah semuanya selesai, Ghofar memutuskan untuk menenangkan pikirannya yang masih terbayang akan celaan itu, membaringkan tubuh nya yang amat lelah hari ini, dan memejamkan mata sayu miliknya.
Hari yang dinanti tiba, hari dimana Ghofar membalas dendamnya. Hari ini adalah pameran desain tugas akhir masa kuliah, dengan penuh percaya diri, rasa bangga, dan haru Ghofar membuka hasil desainnya. Betapa elok nan mewah nya rancangan Ghofar yang memadupadankan corak batik dengan gaun panjang, ditambah manik-manik mutiara dan dihiasi corak songket dibagian atas, dan kain tenun khas Indonesia menjuntai panjang sebagai bagian bawahnya. Semua orang tercengang melihat hasil desain Ghofar yang tak biasa itu, tak terkecuali seorang designer ternama berkebangsaan Prancis yang pada saat itu juga berkata “ woww, amazing ......” Tak lama dia memesan hasil desain Ghofar sebanyak 100 potong khusus untuknya. Dan dengan ini pula Ghofar dinobatkan sebagai lulusan terbaik.
Tak menyangka dengan hal sebesar ini, Ghofar tak kuasa menahan haru, dengan gagah dan penuh percaya diri Ghofar menaiki panggung kelulusan dengan membawa bendera merah putih yang ia kalungkan menyelimuti pundak hingga punggungnya. Atas keberhasilannya Ghofar menunjukan bahwa bangsa Indonesia dapat bersinar dimata dunia dengan semangat pemuda dalam menciptakan hal baru yang relevan namun tak melupakan ciri bangsa. Balas celaan dengan prestasi dan tunjukan bahwa Indonesia mempunyai pemuda milenial yang menjunjung tinggi budaya bangsanya. Jangan malu mengakui budaya bangsa!.


Komentar

Posting Komentar